Islam Sebagai Ajaran Persaudaraan
Talk Show – JIE. Persaudaraan merupakan prinsip agama (Islam). Bahwa Islam menegaskan akan ajaran persaudaraan. Persaudaraan dalam arti luas (unlimited) , ingin menegaskan akan persaudaraan lintas batas yang didasarkan atas nilai kemanusiaan. Inilah yang menjadikan agama lebih bermakna. Persaudaraan seperti inilah, persaudaraan kemanusiaan (al-ukhuwwah al-insâniyyah) , yang menjadi simpul pengikat semua jenis persaudaraan. Dengan implementasi prinsip persaudaraan kemanusiaan inilah, konflik antar umat seagama, atau antar umat beragama, antar suku, ras dan seterusnya, bisa diminimalisir semaksimal mungkin. Karena pada prinsipnya, mereka semuanya adalah bersaudara.
Bersamaan dengan Talk Show “Khazanah Progresif” atas kerjasama P3M dengan 97,5 Jakarta News FM, Desember 2004. Dengan mengangkat tema: Islam sebagai Ajaran Persaudaraan; Kemanusiaan Menjadi Tali Simpul Persaudaraan. Sebagai narasumber: Agus Muhammad dan Achmad `Aly MD; Moderator: Nurpud Binarto.
Nurpud: Berbicara perihal persaudaraan, mengapa persaudaraan itu sangat penting ditekankan dalam Islam?
Agus Muhammad: Paling tidak ada dua jawaban penting, yaitu jawaban historis dan idealis. Jawaban idealis, tentu saja bahwa manusia dilahirkan sebagai manusia. Karena itu, antara manusia yang satu dengan manusia yang lain itu bersaudara, paling tidak sama-sama keturunan Nabi Adam. Terus pertanyaannya, kenapa persaudaraan? Bukan persahabatan? Bukan pula pertemanan? Karena, persaudaraan itu kalau didefinisikan, seakan-akan seperti bersaudara. Dan yang namanya bersaudara tentu berbeda dengan berteman atau bersahabat. Jadi, bersaudara itu kira-kira ada ketulusan. Dan ini merupakan jawaban yang idealis.
Jawaban kedua, historis, bahwa ketika sebelum kedatangan Islam, persaudaraan di tanah Arab pra-Islam sangat kuat diwarnai oleh persaudaraan kesukuan. Artinya, seorang dianggap bersaudara hanya bila sekelompok suku saja, sementara kelompok suku yang lain itu dianggap saingan bahkan bisa dianggap musuh, sehingga bila ada konflik sedikit saja, jalan keluarnya adalah perang.
Kemudian, Islam datang untuk mengakhiri tradisi menyelesaikan konflik dengan cara peperangan. Ajaran Islam sebenarnya, untuk menghapus sikap kebersaudaraan hanya sebatas kelompok suku saja. Ditinjau dari segi ajaran Islam, banyak ayat atau hadits yang menerangkan, betapa persaudaraan itu dianggap salah satu inti ajaran Islam, misalnya, yang masih sering dikumandangkan adalah ayat, “Innamâ al-mukminûna ikhwah” (sesungguhnya semua orang mukmin itu bersaudara).
Tetapi kemudian, ayat ini sering dibatasi hanya pada level persaudaraan untuk umat Islam an sich. Ada sedikit reduksi. Artinya, persaudaraan yang sebelumnya sangat ditekankan pada aspek yang begitu luas, kemudian direduksi menjadi sekadar persaudaraan sesama Islam. Itu bisa kita lihat, ketika kita menggunakan istilah ukhuwwah Islâmiyyah yang lebih dimaknai “persaudaraan sesama muslim”. Dan ini merupakan pengertian yang mainstream. Padahal kalau secara harfiyyah, kita lihat makna ukhuwwah Islâmiyyah, sebetulnya bukan persaudaraan sesama umat Islam an sich, tetapi saya mengartikannya, lebih pada persaudaraan yang sesuai dengan semangat Islam. Artinya, persaudaraan sesama muslim pun bisa keluar dari katagori ukhuwwah Islâmiyyah, kalau memang patokan kita adalah persaudaraan yang disemangati oleh nilai-nilai Islam.
Nurpud: Jadi, saya baru mengerti, ukhuwwah islâmiyyah itu sebenarnya tidak cukup dibatasi hanya semacam pengelompokan untuk kepentingan kaum muslimin saja, tapi menyangkut orang lain yang mempunyai kesamaan akan nilai-nilai keislaman itu. Bisa dipaparkan lebih luas lagi?
Agus Muhammad: Artinya, persoalan persaudaraan itu adalah lintas agama. Dan bahkan, ada hadits yang mengatakan, bahwa Nabi sangat mencela `ashâbiyyah, yaitu fanatisme yang berlebihan terhadap kelompok, seolah-olah kelompok suku adalah segala-galanya. Dan saya kira, itu merupakan salah satu yang tidak bisa dihindari ketika fanatisme terhadap kelompok diapresiasi secara berlebihan. Kalau ukhuwwah Islâmiyyah dibatasi hanya persaudaraan antar umat Islam saja, maka itu berbahaya dan bukan sekedar salah, karena jika persaudaraan itu diartikan hanya sebatas persaudaraan umat Islam saja, maka jebakan eksklusifisme akan menjadi tidak terhindarkan.
Nurpud: Bagaimana tanggapan mas Ali, bisa menambahkan!
Aly MD: Seperti telah disampaikan di muka, bahwa arti persaudaraan cenderung dipersempit hanya pada level persaudaraan kesukuan, dan ini akan mengakibatkan terjadinya fanatisme terhadap kesukuan. Di mana untuk melakukan perlindungan terhadap kelompoknya sendiri, ia akan melakukan tindakan penyerangan dalam menghadapi pihak yang lainnya. Karena itu untuk memperkuat kesukuan itu dibutuhkanlah orang-orang yang kuat, karenanya, perempuan pada waktu itu, zaman pra-Islam, dikubur hidup-hidup. Kenapa? Karena dianggap perempuan itu fisiknya tidak memadai.
Untuk menegaskan kembali, bahwa persaudaraan Islam atau ukhuwwah Islâmiyyah itu dapat diartikan dari sudut pandang lughâwî (bahasa), yang mengandung dua makna, yaitu ukhuwwah dan Islâmiyyah. Kata ukhuwwah itu adalah man`ût yang disifati dan Islâmiyah adalah na`at (sifat). Ini artinya, bukan persaudaraan sesama Islam saja, tapi persaudaran yang bersemangatkan Islam, atau diartikan juga persaudaraan yang diajarkan Islam.
Pertanyaan mendasar yang penting untuk diajukan dalam masalah persaudaraan ini adalah, kenapa ada unsur kemanusiaan? Karena Islam itu bukan untuk orang Islam saja, tetapi untuk umat manusia seluruhnya, rahmatan li al-`âlamîn. Untuk merealisasikan rahmatan li al-`âlamîn, perlu diwujudkan satu bentuk persaudaraan lintas agama atau ukhuwwah insâniyyah, dan ini yang sering kali tidak digaungkan.
Kemudian ukhuwwah islâmiyyah yang bersendikan kemanusiaan ini, diajarkan oleh semangat Islam yang bisa dikelompokkan menjadi empat macam: pertama, ukhuwwah secara keluarga karena nasabnya; kedua, ukhuwwah secara kemasyarakatan (ukhuwwah ijtimâ`iyyah) ; ketiga, persaudaraan karena adanya ketundukan, karena sebenarnya semua yang di langit atau di bumi itu mengakui, tunduk kepada Tuhan; dan keempat, ukhuwwah insâniyyah (persaudaraan sebagai sesama manusia, yang cakupannya lebih luas dan dalam, bahkan menjadi simpul dari berbagai ukhuwwah tersebut.
Nurpud: Untuk menegaskan kembali pentingnya ukhuwwah yang lebih luas dalam perspektif lintas batas di atas, apakah bisa dikuatkan dengan merujuk pendapat tokoh di tanah air sendiri, bagaimana?
Agus Muhammad: Mengenai tema persaudaraan (ukhuwwah) , memang perlu diangkat kembali pendapat seorang tokoh semisal KH. Ahamd Siddiq. Sebagai salah satu tokoh NU almarhum KH. Ahmad Siddiq pada tahun 1988, sudah memperluas makna ukhuwwah islâmiyyah. Misalnya, dia membagi pada tiga bagian ukhuwwah; Pertama, ukhuwwah islâmiyyah. Kedua, ukhuwwah wathaniyyah. Dan ketiga, ukhuwwah insâniyyah atau basyariyyah.
Ukhuwwah islâmiyyah diartikan oleh KH. Ahmad Siddiq, sebagai persaudaraan sesama muslim, tetapi pada penekanan keyakinan saja. Artinya, ada persaudaraan yang diyakini bersama dan karena namanya ukhuwwah islâmiyyah, maka persaudaraan itu dalam arti persaudaraan yang diyakini oleh keyakinan yang sama sebagai sesama muslim. Sedangkan ukhuwwah wahtaniyyah, artinya persaudaraan atau solidaritas sosial sebagai sesama warga negara.
Adapun ukhuwwah insâniyyah, yaitu persaudaraan lintas batas. Kita bersaudara sesama manusia tanpa melihat latar belakangnya, keluarganya, agamanya, etnisnya, bahasanya, dll. Karena kita memang sama-sama manusia. Dalam bahasan sebelumnya sudah disampaikan, bahwa manusia adalah makhluk sosial, karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Misalnya, dalam filmnya “Tomheng” dia terdampar di pulau sendirian. Dia bisa saja hidup sendiri, tapi dalam film itu kita melihat betapa sengsaranya dia hidup sendiri di tengah pulau terpencil. Artinya, kecenderungan manusia untuk hidup bersosial itu adalah kecenderungan fitrah, dan sangat manusiawi. Dan perbedaan juga merupakan fitrah. Jadi, apapun perbedaannya kita tetap bersaudara. Perbedaan dan persamaan itu memperkaya batin dan khazanah pengalaman kita. Terutama dalam perbedaan, saya kira dengan adanya perbedaan itu kita akan menjadi arif, bisa belajar dari yang lain dan menjadi dewasa. Karena adanya perbedaan itulah, manusia harus bersama-sama untuk menanggulangi permasalahan yang ada.
Nurpud: Bisakah ditegaskan, bahwa dalam hal persaudaraan ini terdapat keanekaragaman bentuk?
Aly MD: Ya. Oleh karena itu, selanjutnya yang penting menurut saya, adalah bagaimana konsep persaudaraan yang diajarkan Islam, bisa menembus batas etnis, ras dan agama. Hal ini bisa diarahkan untuk membenahi dan membangun tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang sedang amburadul ini. Jadi, bagaimana konsep persaudaraan bisa menumbuhkan dan memupuk nasionalisme serta semangat kebangsaan yang tinggi. Karena dalam konteksnya, bahwa yang dinamakan persaudaraan itu adalah persaudaraan yang dibangun di atas landasan cinta kasih.
Agus Muhammad: Saya kira memang tidak mudah, karena manusia sendiri berbeda-beda dan tidak mudah membangun persaudaraan walaupun itu sudah fitrah. Jangankan persaudaraan lintas agama atau lintas keyakinan, dengan saudara kita sendiri, yang sedarah itu saja susahnya minta ampun. Misalnya, ada contoh di kampung saya, di Bondowoso, ada sebuah keluarga yang bertengkar dan kemudian tidak bertegur-sapa. Itu gara-gara hanya perbedaan pilihan politik yang kemudian membuat hubungan keluarga itu menjadi tidak harmonis.
Dalam konteks agama misalnya, dalam sebuah keluarga dan ada salah seorang anggota keluarganya, yang pindah ke agama lain, bisa-bisa tidak diakui sebagai anggota keluarga. Saya tidak tahu memahami hal semacam ini, tetapi memang ada yang mengatakan, “yang namanya keluarga itu sebagaimana mirip dengan hak milik”, dan yang namanya hak milik, adalah milik bersama dalam artian ada ikatan sedemikian kokoh berdasarkan keyakinan, sehingga akibat pindah agama itu, kita merasakan kehilangan sesuatu.
Tanya Jawab/Tanggapan:
Irfan: Saya adalah non-muslim, dan saya sangat senang mendengar acara ini. Karena saya bisa menambah wawasan tentang Islam. Dan saya harapakan, Islam seperti inilah yang saya dapatkan. Karena terus terang, saya sekarang mempelajari dua agama, dan sekarang saya sedang mempelajari Islam, cuman ketika saya ke toko buku mencari al-Qur’an, saya mendapat nasehat, katanya, jangan cuman baca al-Qur’an. Karena kalau hanya membaca terjemahannya saja, katanya, menyesatkan. Makanya, sampai sekarang saya belum punya al-Qur’an, dan apakah itu benar?
Agus Muhammad: Kalau penyataan tarjemahan al-Qur’an menyesatkan, saya kira, perkataan itu yang menyesatkan. Sebab hampir seluruh al-Qur’an terjemahan, sudah di tashhih (diteliti kebenarannya) oleh DEPAG (Departemen Agama –red.). Dan hampir tidak ada al-Qur’an yang diedarkan tanpa tashhih atau semacam legitimasi dari Departemen Agama.
Irfan: Bagaimana berkenaan dengan masalah kehidupan sehari-hari saya? Selain orang di luar Islam tidak masuk surga. Bahwa yang akan naik ke surga hanya orang-orang Islam saja. Di sini ada kontroversi menurut teologi logika, sedangkan kalau kita beragama logika itu dibelakangkan.
Agus Muhammad: Tidak selalu begitu, tadi malam (dalam acara talk shaw sebelumnya –red.) kiranya sudah dibahas panjang lebar tentang kebebasan: bagaimana posisi akal dan posisi agama.
Irfan: Karena kalau memang hanya orang Islam yang diangkat ke surga oleh Allah, berarti sebetulnya Allah bukan Maha Esa, karena yang non-muslim itu bukan ciptaaan Allah. Makanya, saya sangat menyesalkan orang-orang yang mempunyai pandangan seperti itu, sehingga menimbulkan pertengkaran-pertengkaran antar agama. Dan sesungguhnya agama diturunkan oleh Allah untuk mendamaikan manusia dan hidup saling berdampingan beraneka warna. Tapi yang terjadi di Indonesia, masing-masing agama mengklaim kebenarannya sendiri, sedangkan yang terbaik hanya satu. Jika hanya satu yang baik, yang lain kurang baik atau tidak baik.
Agus Muhammad: Sebetulnya, itu adalah hak setiap orang untuk mengatakannya.
Irfan: Betul, tapi ini harus dipertajam di masyarakat.
Agus Muhammad: Cuma saya beranggapan, bahwa ada orang yang menganggap umat Islam yang terbaik itu merupakan pernyataan saja.
Atanasius: Saya senang sekali terhadap acara ini, dan terus terang mungkin perlu penjelasan lebih lanjut tentang hubungan antara iman dan agama. Pada suatu saat, ada statement dari KH. Syihab waktu kita undang di Senayan. Beliau mengatakan, seiman dengan Romo Mangun (almarhum) tapi tidak seagama, dan mungkin pemahaman seperti itu perlu dikembangkan. Jadi, setiap Tuhan adalah titah Tuhan dan hanya mungkin formalnya yang berbeda. Dan ini merupakan sebuah pernyataan.
Ibu Titi: Pertama, saya ini seorang Katolik. Dari pagi hingga malam ini, kebetulan mendengarkan semua acara tentang agama Islam. Malam ini, saya sangat senang sekali apa yang disampaikan oleh narasumber kita. Dan yang kedua, saat serang Ibu (Umu Salamah –red) menyatakan, seandainya kita meninggal, Tuhan tidak akan menanyakan apa agamamu, tapi menanyakan perbuatanmu atau amalnya. Dan bagi kami orang-orang Katolik, juga mengakui bahwa agama apapun juga baik. Karena itu, menuju jalan keselamatan di dunia maupun di Surga, jadi caranya saja yang berbeda.
Dan saya sendiri punya kakak, agamanya Katolik, dan dapat (menikah-red) orang Islam dan sekarang sudah Haji. Mereka tetap beragama masing-masing. Pada waktu Natal juga ikut menghormati, dan pada waktu Puasa atau Lebaran juga menghormati. Sekarang, anakanya sudah menikah semua. Saat-saat ini, saya sangat bahagia sekali dan umur saya sekarang sudah 61 tahun.
Mendapatkan berita-berita seperti ini saya sangat lega sekali, karena di antara tiga anak saya, yang satu juga mendapat jodoh seorang yang beragama Islam. Hal itu semua tidak menjadi masalah. Seandainya, anak saya ikut ke Islam dan dia tidak Shalat, saya selalu mengingatkan, “Kamu sudah Shalat?” Jadi, orang harus punya pegangan dalam agama dan harus betul-betul dia mengimani agamanya itu. Kalau anak saya tidak menjalankan dengan baik, juga tetap akan saya tegur, karena itu merupakan pegangan untuk di dunia ini. Kita akan lari ke mana, kalau mendapat masalah jika bukan dengan doa jadi apa. Begitu saja dan terima kasih. Salam!
Aly MD: Memang di dalam Islam ditekankan untuk saling menghormati antar sesama, dan tidak ada paksaan dalam beragama atau untuk memeluk agama tertentu. Bahkan, sangat jelas dikatakan dalam al-Qur’an, “Lâ ikrâha fî al-dîn” (tidak ada paksaan dalam beragama). Maksudnya, kita hendaklah beramal menurut keyakinan kita masing-masing. Jadi yang ditekankan dalam Islam adalah amal (lanâ a`mâlunâ wa lakum a`mâlukum, bagi kami amal perbuatan kami, dan bagi kalian juga amal perbuatan kalian). Kemudian ditegaskan lagi dalam surat al-Kâfirûn ayat 6: “lakum dînukum waliya dîn” (bagimulah agamamu, dan bagikulah agamaku). Dan tentunya dalam agama yang ditekankan, adalah melakukan perbuatan yang baik (al-`amal bi al-ma`rûfât wa al-khairât) dan meninggalkan perbuatan yang buruk (ijtinâb al-munkarât)
Agus Muhammad: Sebenarnya, sejarah agama datang untuk menyelamatkan manusia. Saya kira beberapa teman-teman mengatakan, bahwa sejarah agama adalah sejarah pembebasan dan menyelamatkan manusia dari keterpurukan moral, sosial, budaya, dll. Hampir semua agama, khususnya agama samawi, dan lebih lagi kalau kita melihat sejarah awal Islam, betapa upaya Islam menegakkan keadilan, kesetaraan, menghormati yang lemah. Dan itu sangat ditegaskan pada awal-awal Islam.
Dan kedatangan agama untuk menyelamatkan manusia tidak hanya di dunia akan tetapi juga di akhirat. Kenapa agama itu menjadi penting? Karena akan lebih memperjelas apa yang hitam dan apa yang putih. Dalam kaitan ini, apa yang disebut hidayah menjadi suatu yang sulit diperdebatkan. Maksud saya, kalau sudah menjadi hidayah, itu merupakan hak Tuhan bukan hak manusia lagi.
Nurpud: Seperti yang Mas Agus katakan, bahwa di Islam memberi ruang untuk melakukan pembelaan kaum minoritas dan orang yang tertindas. Bagaimana melakukan upaya ini?
Agus Muhammad: Dialog antar-agama dibutuhkan dalam hal ini. Kenapa sangat perlu? Karena, problem kemanusiaan itu sudah sekian parah, khususnya di Indonesia. Dan problem itu tidak mungkin ditangani oleh umat Islam saja, tapi harus ditangani bersama-sama lintas agama.
Yuwono: Saya sangat tertarik dengan apa yang dikatakan narasumber pada malam ini. Saya seorang Protestan. Begitu banyak saya mendengarkan tentang Islam. Berkenaan dengan yang saya pahami tentang agama saya sendiri, bahwa agama saya itu yang paling baik, jadi seperti yang narasumber katakan, setiap pemeluk agama itu menganggap agamanya yang paling baik. Dan kenapa bapak (narasumber-red) tidak konsisten terhadap agama yang bapak peluk? Dan tentang kuntum khaira ummah itu mengatakan, bahwa umat Islam itu yang terbaik, dan kenapa bapak tidak meyakini hal itu?
Agus Muhammad: Yang saya maksud, kuntum khaira ummah (engkau adalah umat yang terbaik). Sebagai muslim tentu saya meyakini, bahwa Islam yang paling baik, dan kalau saya tidak yakin, bahwa Islam bukan yang terbaik, untuk apa saya bertahan. Saya kira ayat itu dipahami sebagai semangat untuk memacu kita semua untuk berbuat lebih baik lagi. Kalau kita tertutup tidak mau belajar dari orang lain mungkin agak sulit kita menghendaki tingkat kesempurnaan. Seperti apa yang dikehendaki Islam.
Aly MD: Ayat itu lebih lengkapnya adalah “kuntum khaira ummah ukhrijat li al-nâs ta’mûrûna bi al-ma`rûf wa tanhauna `an al-munkar wa t’miûna billâh” (kalian umat Islam, umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyeru manusia untuk berbuat kebajikan dan mencegah perbuatan yang jelek dan beriman kepada Tuhan). Jadi, ayat ini dimaksudkan agar menjadi cambuk, bahwa umat Islam itu bisa menegakkan kebaikan dan menghindarkan kejahatan. Jadi, ketika umat Islam bisa konsisten dan merealisasikan “amar ma`ruf nahi munkar” dalam arti luas, syaratnya, di antaranya adalah memenuhi yang ini dulu baru bisa menjadi umat yang terbaik.
Agus Muhammad: Tapi “amar ma`ruf nahi munkar” harus dilihat lebih luas pengertianya. Selama ini, ayat ini mengalami reduksi atau penyempitan maknanya. Seolah-olah “amar ma`ruf” diartikan ayo shalat, zakat, atau hal-hal yang berbau ritual saja! Hal-hal ini sangat penting untuk menyambungkan tali batin kita dengan Sang Pencipta. Tetapi, “amar ma`ruf” tidak hanya sekedar itu, bisa juga kontekstual dengan masyarakat. Misalnya, masalah kasus korupsi, kita mendakwahkan agar korupsi itu diupayakan tidak selalu terjadi. Dan hemat saya, ini merupakan “amar ma’ruf”.
Demikian juga “nahi munkar” yang sering kali terjadi pada masyarakat kita, adalah mencegah kemungkaran hanya pada tempat-tempat ma’siat. Menurut saya, tempat-tempat seperti itu sudah jelas dilarang oleh Islam dan itu tidak perlu diperdebatkan, bahwa semua orang mengatakan seperti itu. Tetapi maksiat jangan hanya diartikan seperti itu, tetapi juga diartikan lebih luas lagi. Misalnya, kejahatan terhadap kemanusiaan. Itu bahkan merupakan maksiat yang pengaruhnya lebih besar sekali. Contoh sederhana, masalah kasus Munir. Saya juga sangat sedih, kenapa ormas (organisasi masyarakat –red.) Islam tidak banyak bersuara ketika kasus Munir. Meskipun ada Syafi’i Ma’arif yang bersuara lantang tentang kasus ini, dan kita merasa sangat terwakili. Kasus Munir merupakan tindakan kemaksiatan, karena itu menghina kemanusiaan dan melecehkan kemanusiaan. Dan yang dimaksud “munkar” tentu saja diperluas maknanya tapi bukan sekedar urusan Tuhan dengan saya (hamba-red).
Yober: Saya dapat menangkap dari apa yang bapak-bapak (narasumber-red) katakan. Saya ini orang Protestan. Menurut saya, sebelum ada agama di dunia, tentu dunia ini kacau balau, begitu kan pak?! Dengan timbulnya agama itu, Tuhan memberikan suatu inspirasi kepada manusia, di mana kekacauan itu harus lebih baik, dan dengan timbulnya agama ini, manusia mempunyai keyakinan kepada Tuhan. Jadi dia mempunyai pemikiran yang luas. Bagaimana dia bisa mengasihi Tuhannya dan mengasihi sesamanya. Di sinilah kita melihat, bahwa agama mengajarkan kepada kita akan kasih sesama manusia dan kepada Tuhan. Saya menganggap, agama saya yang lebih baik dan bapak menganggap, bahwa agama bapak yang lebih baik. Di sinilah, bagaimana kita menganggap agama itu dan kepada agama orang kita mengajarkan satu kebaikan di dalam kehidupan kita.
Agus Muhammad: Saya tertarik terhadap pernyataan bapak, bahwa dunia kacau balau sebelum ada agama, lalu agama menghentikan kekacau-balauan. Menurut saya, datangnya agama untuk menghentikan kekacau-balauan. Ini artinya, bahwa agama menjadi rahmat, dan kalau dalam Islam itu rahmatan li al-`âlamîn, yaitu rahmat bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk alam semesta. Dengan prinsip agama rahmatan li al-`âlamîn, menyelamatkan manusia tentu saja tidak cukup dengan konsep atau ajaran tetapi harus dibuktikan!
Yober: Islam mengajarkan kedamaian, Kristen mengajarkan kedamaian dan semua agama mengajarkan kedamaian. Kenapa khususnya di Indonesia agama kita mengajarkan kebenaran? Dan kenapa tidak kita rangkul satu umat manusia untuk saling mengasihi sesama manusia agar tecipta suatu kedamaian di antara kita?. Artinya, kalau yang salah jangan sampai kita membenarkan dia, dan kita harus terus terang kepada dia bahwa itu salah. Tetapi kalau yang salah jangan kita kerasin (berlaku keras kepadanya –red.). Namun, kita mengajarkan kepada mereka, bahwa di negara kita ada hukum tetapi sulit juga mengatakan hukum yang bagaimana, soalnya dalam hukum kita yang benar juga bisa menjadi salah. Tetapi kalau kita berbalik kepada ajaran kita, marilah kita semua kembali kepada agama kita dan saling melakukan yang terbaik.
Agus Muhammad: Saya kira poin yang terbaik dari pak Yober, bahwa kita sebenarnya harus memberikan yang terbaik dari agama kita untuk orang lain terutama, tentu saja kita memperioritaskan agama kita, itu sudah dengan sendirinya. Akan tetapi, perhatian kita tidak hanya pada agama kita atau pada umat Islam saja, tapi juga pada umat-umat yang lain.